Username:

Password:


ingat informasi login
Online

Pengunjung: 4, Anggota: 0...
paling banyak online: 11
(anggota: 0, pengunjung: 11) pada 18 Feb : 22:29
Translate This Page

Selamat Datang di Website Studio Songket ErikaRianti

Website ini merupakan galeri online Studio Songket ErikaRianti, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pengkajian budaya Minangkabau melalui seni tenun kain songket. Selain meneliti dan menginventarisasi motif lama songket Minangkabau, Studio Songket ErikaRianti juga mereproduksi kain songket yang sudah langka, untuk menghadirkan kembali songket Minangkabau berkualitas tinggi yang pernah dikerjakan oleh para leluhur Minangkabau.

Semoga kunjungan anda menyenangkan.

Direktur Studio Songket ErikaRianti

Nanda Nisa Wirawan



Bernhard Bart Merevitalisasi Songket Minang

oleh Kompas Cyber Media (Rabu, 1 Februari 2006)
Jumat 10 Februari 2006 - 23:52:10
Al-Jum'a, 11 Muharram 1427 H
Kategori Utama

Studio ErikaRianti - Kalangan masyarakat di Sumatera Barat berdecak kagum melihat hasil kerajinan tangan kain tenunan songket yang sangat halus dan bernilai seni tinggi di Rumah Songket ErikaRianti, Padang. Salah satu warisan nenek moyang mereka, yang sudah terkubur 200 tahun lalu, kini hidup lagi.

Kalau saja tidak ada seorang Bernhard Bart (58), yang suka berwisata ke Ranah Minangkabau, Sumatera Barat, warisan budaya Minangkabau berupa tenunan songket itu barangkali sudah punah.

"Untuk bisa menghasilkan bentuk jadi seperti sekarang butuh waktu 10 tahun. Setiap kali waktu libur dan punya dana tabungan untuk modal wisata, saya selalu mengunjungi museum-museum dan toko-toko antik di sejumlah negara, kolektor serta sentra-sentra tenun kerajinan tangan, seperti di India, seluruh negara ASEAN, dan China selatan," kata Bernhard Bart, seorang arsitek berkebangsaan Swiss.

Setiap yang ia lihat dan temukan, ia minta izin untuk mencatat dan mendokumentasikannya. Sebab, untuk beli, kata Bernhard, jelas tak mungkin. Sangat mahal karena sudah menjadi barang antik dan langka.

Bersama Erika Dubler serta sahabatnya yang seniman, Alda Wimar dan Nina Rianti, mereka kemudian sepakat mendirikan Rumah Songket ErikaRianti, agar karya seni yang terancam punah itu bisa menggeliat lagi.

Jauh-jauh hari Bernhard, Erika, Nina, dan Alda telah memotivasi dan membina sejumlah remaja di sentra-sentra penghasil songket yang terancam punah. Alat-alat tenun songket dibelikan, motif lama yang tenggelam sekitar 200 tahun itu digambar dengan komputer dan diberikan kepada masyarakat agar dibuatkan replikanya, sesuai dengan asal kain songket tersebut.

Maksudnya, kata Bernhard, kalau motif lama itu berasal dari Nagari Kotogadang, dikembalikan ke Kotogadang, Kabupaten Agam. Motif dari Nagari Tanjung Sungayang dikembalikan ke Sungayang, Kabupaten Tanahdatar. Yang asal Pandai Sikek, Kabupaten Agam, dikembalikan ke Pandai Sikek.

"Saking halusnya dan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dalam pembuatannya, satu selendang kain songket baru bisa selesai dikerjakan selama enam bulan," kata Bernhard.

Di Indonesia, ia menemui beragam motif songket dan ikat yang berciri etnik, mulai dari Tanah Batak di Sumatera Utara yang terkenal dengan ulosnya hingga ke Tanimbar di Maluku Tenggara, yang terkenal dengan tenun ikatnya. Namun, sejak tahun 1996 Bernhard jatuh cinta dengan songket Minangkabau.

"Keunikan motif lama songket Minangkabau adalah karena setiap motif mengandung arti dan makna filosofis. Sedangkan di daerah lain, motif songket hanya sebagai ornamen ataupun hiasan saja," ujarnya. [ Selengkapnya... ]
Komentar: 0Email Untuk Teman model cetak buat pdf untuk berita ini
Halaman       >>  
 
Copyright (c) Studio Songket Minang ErikaRianti
Design by Djamboe WebDesign
Copyright Djamboe WebDesign