Username:

Password:


ingat informasi login
Online

Pengunjung: 3, Anggota: 0...
paling banyak online: 11
(anggota: 0, pengunjung: 11) pada 18 Feb : 22:29
Translate This Page
Latar Belakang
Songket Minangkabau salah satu bentuk senirupa tradisional yang unik. Seni-tenun ini cukup rumit dan membutuhkan ketelitian serta ketekunan dalam proses penenunannya. Songket-songket lama yang ditenun oleh para leluhur Minangkabau dengan ragam-hias atau motif yang khas menunjukan betapa halusnya citarasa seniman songket di Minangkabau.

Selain itu, tidak seperti daerah lain, ragam hias atau motif songket Minangkabau tidak hanya sekadar hiasan atau ornamentasi. Songket Minangkabau, merupakan sebuah pencatatan ajaran filosofi. Motif atau ragam hias pada songket Minangkabau masing-masing memiliki nama dan makna. Bahkan motif yang paling sederhana sekalipun, misalnya motif batang pinang yang hanya berbentuk garis lurus pada tepi kain, atau sebagai batas antara motif yang satu dengan motif lainnya, mengandung makna perumpamaan sifat mulia manusia, yaitu sifat lurus dan jujur.

Namun sekarang, para penenun di Sumatra Barat tidak lagi mereproduksi motif lama. Hal ini disebabkan kurangnya referensi. Selain itu pengerjaan motif lama songket Minangkabau sangat halus dan butuh waktu cukup lama dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Itulah sebabnya penenun tidak banyak mengerjakan motif-motif lama dan cenderung mengerjakan motif sederhana untuk mengejar kebutuhan pasar. Ini merupakan salah satu penyebab terkuburnya motif lama songket Minangkabau. Ketika reproduksi seni dan komoditas konsumsi dikerjakan secara massal dan cenderung menghasilkan konsumsi budaya yang seragam, maka kebangkitan kembali warisan budaya lama akhirnya menjadi suatu pilihan. Salah satu kebutuhan itu, khususnya di Minangkabau, adalah memperkenalkan kembali motif lama yang terdapat pada kain songket Minangkabau.

Melalui pembangkitan karya seni yang hampir punah itu, Studio Songket Minangkabau ErikaRianti mencoba memperkenalkan kembali salah satu warna lokal Minangkabau sebagai warisan budaya yang unik di dunia. Hal ini merupakan alternatif penting guna memperkuat identitas Minangkabau di tengah maraknya globalisasi budaya dan ekonomi.

Untuk merevitalisasi motif lama songket Minangkabau ini, Studio Songket Minangkabau ErikaRianti didukung oleh Bernhard Bart, 58 tahun, seorang arsitek berkebangsaan Swiss yang intens meneliti motif-motif songket Minangkabau.

Dalam perjalanan penelitiannya, Bernhard Bart telah mengamati motif-motif tenunan di beberapa negara. Ia telah mengamati tenun Patola di Gujarat India. Ia juga mengamati kerajinan tekstil di Cina Selatan serta di berbagai negara Asia Tenggara seperti Laos dan Kamboja, Thailand, Philipina, Malaysia dan Indonesia.

Bernhard juga telah menemui beragam motif songket dan ikat yang berciri etnik, mulai dari Tanah Batak di Sumatra Utara yang terkenal dengan Ulosnya, hingga ke Tanimbar di Maluku Tenggara yang terkenal dengan tenun ikatnya.

Namun sejak tahun 1996, Bart mulai tertarik dengan Songket Minangkabau. Berdasarkan pengamatannya, songket Minangkabau memiliki motif yang khas. Ia menemukan songket Minangkabau di beberapa toko antik dan museum, serta pada beberapa kolektor yang menyimpan songket lama Minangkabau.
 
Copyright (c) Studio Songket Minang ErikaRianti
Design by Djamboe WebDesign
Copyright Djamboe WebDesign